Seorang teman pernah bertanya di dalam sebuah obrolan apakah kritik itu harus selalu identik dengan mencaci dan mencari kesalahan orang lain, dalam kalimat lainnya dapat di artikan kritik itu berarti mengkoreksi sesuatu hal. Atau sebagai sebuah ungkapan protes terhadap suatu keadaan yang sudah stagnant (macet/berhenti). Kemudian, apakah orang yang memberikan kritikan harus selalu lebih baik dari apa yang ia kritikan! Setidaknya hal yang di kritikan harus lebih baik disisi pengkritiknya, demikianlah kebanyakan dari kita merepresentasi sebuah kritik.
Di lihat kedalam lingkup kampus UII, secara kolektif apakah mahasiswa dan dosennya serta kaum-kaum sekular ataupun pemegang otoritas kampus memiliki maksud dan tujuan yang sama dengan arti dari kritik diatas. Penulis berusaha untuk menjelaskan bagaimana seharusnya tatanan kampus kita terbiasa dengan kritikan yang telah terdengar dimana-mana, agar menumbuhkan sifat kritis bukan justru sebagai simbol kaum separatis kampus. Termasuk salah satu produsen rokok besar di tanah air yang mulai gencar menggunakan kritikan sebagai salah satu media beriklan, dimana kritikan bukan lagi sebuah keasingan melainkan sarana yang efektif untuk selalu kritis.
Bagaimana bentuk dari kritik tersebut, mau lembut, keras, pedas sekaligus mencaci maki atau tidak jelas sama sekali akan apa yang sedang ia kritisi maka tergantung dari profil individunya.
Ada kejadian yang perlu saya ceritakan kepada pembaca, setelah terbitnya edisi ke2 Buntung Januari lalu berbuntut pada pemecatan dua kader salah satu organisasi besar baik tingkat kampus atau pun nasional, dengan alasan pencemaran nama baik. Namun hal tersebut sungguh tidak masuk diakal, karena apa yang dituliskan oleh para kader tersebut merupakan fakta dan apa adanya bukan bualan atau omong kosong yang mencemarkan nama baik organisasi.
Maka surat pemecatan dengan alasan seperti itu tentu menjadi sebuah bentuk perlawanan mereka terhadap kritik keras kami, yang memang benar adanya. Yang seharusnya organisasi yang sudah bosan makan asam garam bisa melakukan feed back yang lebih baik dari hanya mengeluarkan surat pemecatan atau eliminasi yang dianggap sebuah penyelesaian.
Itulah sepenggal kisah bahwasanya kritikan mampu menggoyang sebuah kenyamanan sebuah organisasi yang sudah lama tertidur dibawah bayang-bayang nama besar pendahulunya. Namun ada prinsip pemikiran mengenai kritikan, “Selama tidak mengganggu stabilitas dan kenyamanan, terserah orang mau teriak apa! Toh nanti hilang dengan sendirinya”. Jika berpegangan pada prinsip tadi maka sunggung ironis nasib kritik tersebut, karena runtuh sudah semua wacana yang telah dipaprkan.
Di sela-sela diskusi dengan salah seorang dosen prodi komunikasi di UII. Beliau mengatakan perlunya diadakan dialog terbuka antara pihak yang mengkritik dengan yang di kritik. Tujuannya agar dapat tercipta kondisi yang ideal menurut kedua belah pihak. Namun tak jarang untuk mencapai tahap tersebut terkadang sulit untuk diwujudkan.
Mungkin teman-teman sudah mengerti budaya kampus kita yang sulit diajak berkomunikasi dengan baik, jika salah satu pihak merasa sudah benar-benar terpojokkan. Dicari saja sudah sulit, apa lagi mau diajak berdialog? Penyelesaian yang sudah mendarah daging salah satunya adalah baku hantam.
Bagaimana dengan sikap drastis kebanyakan orang dalam menerima kritikan? Tentu beragam, ada yang diam saja karna tak peduli, ada yang membalas kritikan dengan lebih pedas sebagai bentuk pembelaan atau pun pengklarifikasian, namun juga ada yang dengan sangat bijak menjawab setiap kritikan yang datang kepadanya.
Tak jarang juga berbuntut pada ajang perkelahian. Karena pihak yang menerima kritikan merasa benar-benar telah dipermalukan dan menurutnya tidak ada hal yang lebih pantas dari pada memberi pelajaran yang setimpal dengan apa yang telah ia rasakan. Terkait contoh kasus pemukulan teman-teman di salah satu LEM fakultas yang bertikai dengan salah satu anggota komisi tiga DPM universitas yang berbuntut pada penahanan oleh pihak berwajib.
Begitu lah gambaran sekelumit proses dan timbal balik dari dunia kritik mengkritik dikampus kita. Apakah teman-teman telah siap untuk membuat kritikan yang cukup pedas dan keras kepada orang yang benar-benar berhak mendapatkannya. Atau bagaimana tanggapan orang-orang yang memang telah sering mendapatkan kritikan namun belum dapat memberikan tanggapan yang sesuai dengan apa yang di kritikkan.
Semoga dengan membaca tulisan ini setidaknya dapat menumbuhkan semangat kritis di dalam diri. Karena memang sudah terlalu lama kaum intelektual, organisasi-organisasi yang mempunyai dominasi otoritas makro dikampus kita mendapatkan dispensasi dan tidur terlelap dari zona nyamannya.
Mulai lah dengan berusaha mencari titik kelemahan diri sendiri untuk dapat dikritisi, sehingga kedepannya dapat terbentuk tatanan dan kehidupan yang penuh dialektika sebagai mana tugas dwifungsi seorang mahasiswa sebagai roda penggerak disetiap zaman yang memang tidak pernah terlupakan namun sering diremehkan karena sifatnya yang konservatif.
Seperti apa yang selama ini telah kita cita-cita kan bersama demi kemajuan bangsa dan kampus tercinta. (arz)