Seorang teman pernah bertanya di dalam sebuah obrolan apakah kritik itu harus selalu identik dengan mencaci dan mencari kesalahan orang lain, dalam kalimat lainnya dapat di artikan kritik itu berarti mengkoreksi sesuatu hal. Atau sebagai sebuah ungkapan protes terhadap suatu keadaan yang sudah stagnant (macet/berhenti). Kemudian, apakah orang yang memberikan kritikan harus selalu lebih baik dari apa yang ia kritikan! Setidaknya hal yang di kritikan harus lebih baik disisi pengkritiknya, demikianlah kebanyakan dari kita merepresentasi sebuah kritik.
Di lihat kedalam lingkup kampus UII, secara kolektif apakah mahasiswa dan dosennya serta kaum-kaum sekular ataupun pemegang otoritas kampus memiliki maksud dan tujuan yang sama dengan arti dari kritik diatas. Penulis berusaha untuk menjelaskan bagaimana seharusnya tatanan kampus kita terbiasa dengan kritikan yang telah terdengar dimana-mana, agar menumbuhkan sifat kritis bukan justru sebagai simbol kaum separatis kampus. Termasuk salah satu produsen rokok besar di tanah air yang mulai gencar menggunakan kritikan sebagai salah satu media beriklan, dimana kritikan bukan lagi sebuah keasingan melainkan sarana yang efektif untuk selalu kritis.
Bagaimana bentuk dari kritik tersebut, mau lembut, keras, pedas sekaligus mencaci maki atau tidak jelas sama sekali akan apa yang sedang ia kritisi maka tergantung dari profil individunya.
Ada kejadian yang perlu saya ceritakan kepada pembaca, setelah terbitnya edisi ke2 Buntung Januari lalu berbuntut pada pemecatan dua kader salah satu organisasi besar baik tingkat kampus atau pun nasional, dengan alasan pencemaran nama baik. Namun hal tersebut sungguh tidak masuk diakal, karena apa yang dituliskan oleh para kader tersebut merupakan fakta dan apa adanya bukan bualan atau omong kosong yang mencemarkan nama baik organisasi.
Maka surat pemecatan dengan alasan seperti itu tentu menjadi sebuah bentuk perlawanan mereka terhadap kritik keras kami, yang memang benar adanya. Yang seharusnya organisasi yang sudah bosan makan asam garam bisa melakukan feed back yang lebih baik dari hanya mengeluarkan surat pemecatan atau eliminasi yang dianggap sebuah penyelesaian.
Itulah sepenggal kisah bahwasanya kritikan mampu menggoyang sebuah kenyamanan sebuah organisasi yang sudah lama tertidur dibawah bayang-bayang nama besar pendahulunya. Namun ada prinsip pemikiran mengenai kritikan, “Selama tidak mengganggu stabilitas dan kenyamanan, terserah orang mau teriak apa! Toh nanti hilang dengan sendirinya”. Jika berpegangan pada prinsip tadi maka sunggung ironis nasib kritik tersebut, karena runtuh sudah semua wacana yang telah dipaprkan.
Di sela-sela diskusi dengan salah seorang dosen prodi komunikasi di UII. Beliau mengatakan perlunya diadakan dialog terbuka antara pihak yang mengkritik dengan yang di kritik. Tujuannya agar dapat tercipta kondisi yang ideal menurut kedua belah pihak. Namun tak jarang untuk mencapai tahap tersebut terkadang sulit untuk diwujudkan.
Mungkin teman-teman sudah mengerti budaya kampus kita yang sulit diajak berkomunikasi dengan baik, jika salah satu pihak merasa sudah benar-benar terpojokkan. Dicari saja sudah sulit, apa lagi mau diajak berdialog? Penyelesaian yang sudah mendarah daging salah satunya adalah baku hantam.
Bagaimana dengan sikap drastis kebanyakan orang dalam menerima kritikan? Tentu beragam, ada yang diam saja karna tak peduli, ada yang membalas kritikan dengan lebih pedas sebagai bentuk pembelaan atau pun pengklarifikasian, namun juga ada yang dengan sangat bijak menjawab setiap kritikan yang datang kepadanya.
Tak jarang juga berbuntut pada ajang perkelahian. Karena pihak yang menerima kritikan merasa benar-benar telah dipermalukan dan menurutnya tidak ada hal yang lebih pantas dari pada memberi pelajaran yang setimpal dengan apa yang telah ia rasakan. Terkait contoh kasus pemukulan teman-teman di salah satu LEM fakultas yang bertikai dengan salah satu anggota komisi tiga DPM universitas yang berbuntut pada penahanan oleh pihak berwajib.
Begitu lah gambaran sekelumit proses dan timbal balik dari dunia kritik mengkritik dikampus kita. Apakah teman-teman telah siap untuk membuat kritikan yang cukup pedas dan keras kepada orang yang benar-benar berhak mendapatkannya. Atau bagaimana tanggapan orang-orang yang memang telah sering mendapatkan kritikan namun belum dapat memberikan tanggapan yang sesuai dengan apa yang di kritikkan.
Semoga dengan membaca tulisan ini setidaknya dapat menumbuhkan semangat kritis di dalam diri. Karena memang sudah terlalu lama kaum intelektual, organisasi-organisasi yang mempunyai dominasi otoritas makro dikampus kita mendapatkan dispensasi dan tidur terlelap dari zona nyamannya.
Mulai lah dengan berusaha mencari titik kelemahan diri sendiri untuk dapat dikritisi, sehingga kedepannya dapat terbentuk tatanan dan kehidupan yang penuh dialektika sebagai mana tugas dwifungsi seorang mahasiswa sebagai roda penggerak disetiap zaman yang memang tidak pernah terlupakan namun sering diremehkan karena sifatnya yang konservatif.
Seperti apa yang selama ini telah kita cita-cita kan bersama demi kemajuan bangsa dan kampus tercinta. (arz)
"UNTUK ISLAM, BANGSA, DAN ILMU PENGETAHUAN."
Rabu, 10 Agustus 2011
Kamis, 03 Februari 2011
Menakar pemahaman mahasiswa UII
oleh : Walid Jumlad (Mahasiswa Psikologi UII'07 jogjakarta)
Masalah di kampus kita memang sangat kompleks. Mungkin mirip juga dengan kondisi Indonesia. Kalau mau adil, setiap elemen kampus, mulai dari pejabat kampus, keluarga mahasiswa (termasuk di dalamnya lembaga eksekutif dan legislatif), sampai mahasiswa non-lembaga pun punya andil dalam membuat kampus ini tidak menarik lagi. Kalau dibahas semua satu per satu disini, akan terlalu panjang.
Tapi sepertinya petuah klasik pas untuk menggambarkan semua itu:"Berangkatlah dari niat dan kamu akan mendapatkan hasil sesuai dengan niatmu". Birokrat kampus misalnya, selalu menggadang-gadangkan sistem adiministrasi UII yang sangat baik dan terpadu. Mendapatkan sertifikasi ISO dsb. Yah kalo niatnya cuma buat prestise dan menarik mahasiswa baru aja, ya itulah yang mereka dapatkan.
Seingatku, waktu ada tim akreditasi datang ke psikologi tahun lalu, pihak prodi sampai nyewa bunga segala. Terus pada pasang poster ilmiah di sana-sini. Semuanya buat pencitraan di mata asesor. Ya itulah yang akhirnya mereka dapatkan.
Kalau lembaga mahasiswa maunya apa? Menancapkan sedalam-dalamnya kuku organisasi eksternal kampus dalam keluarga mahasiswa? Ya sebatas itulah yang mereka dapatkan. Setelah tertancap pun tak tahu mau diapakan.
Lalu mahasiswa yang berada di luar semua itu? Kuliah niatnya apa? Biar nggak jadi pengangguran? Ya itulah yang mereka dapatkan. Lulus cepat? Berdiskusi? Mengkritik kebijakan pemerintah? Ikut kompetisi ilmiah? Nyari pacar? Menyenangkan hati orangtua? Ya itulah yang mereka (atau kita) dapatkan.
Aku juga terus mencoba mengajak teman2 dan adik2 angkatan di psikologi supaya giat berdiskusi mengenai psikologi. Jadi ilmu psikologi bisa digunakan sebagai analisis, atau solusi, untuk masalah sehari-hari. Banyak yang tertarik, tapi banyak juga yang enggan memusingkan kepala dengan diskusi. "Kuliah saja sudah pusing, ngapain pusing lagi dengan diskusi!" Itu alasan dari mereka yang tidak tertarik.
Aku pikir untuk saat ini sulit untuk membuat sebuah gerakan mayoritas. Setiap orang punya ketertarikan yang amat beragam. Teknologi informasi telah membuat orang memiliki dimensi yang amat beragam untuk mengaktualisasikan minatnya. Ada yang cukup puas dengan kondisi kampus saat ini, tapi ada yang yang tidak puas.
Kesimpulannya, amat sangat susah membuat ribuan orang yang memiliki perbedaan karakter, pola pikir, dan ideologi, memiliki niat yang sama dalam "menghidupkan kampus" dan mencapai satu hasil bersama. Tapi juga tidak mustahil untuk mewujudkannya. Semuanya tergantung niat "masuk ke perguruan tinggi mau apa?". Dosen saya pernah berkata:"Skripsi adalah media bagi mahasiswa untuk mengartikulasikan pengetahuan yang telah diperoleh agar mampu memecahkan masalah melalui kaidah-kaidah ilmiah". Lha kalau niat ngerjain skripsi cuma supaya lulus kuliah, ya iitulah yang akan didapatkan. Tak salah juga sebenarnya. Pilihan ada di tangan kita, pergerakan juga ada di tangan kita. Teruslah berjuang!
Masalah di kampus kita memang sangat kompleks. Mungkin mirip juga dengan kondisi Indonesia. Kalau mau adil, setiap elemen kampus, mulai dari pejabat kampus, keluarga mahasiswa (termasuk di dalamnya lembaga eksekutif dan legislatif), sampai mahasiswa non-lembaga pun punya andil dalam membuat kampus ini tidak menarik lagi. Kalau dibahas semua satu per satu disini, akan terlalu panjang.
Tapi sepertinya petuah klasik pas untuk menggambarkan semua itu:"Berangkatlah dari niat dan kamu akan mendapatkan hasil sesuai dengan niatmu". Birokrat kampus misalnya, selalu menggadang-gadangkan sistem adiministrasi UII yang sangat baik dan terpadu. Mendapatkan sertifikasi ISO dsb. Yah kalo niatnya cuma buat prestise dan menarik mahasiswa baru aja, ya itulah yang mereka dapatkan.
Seingatku, waktu ada tim akreditasi datang ke psikologi tahun lalu, pihak prodi sampai nyewa bunga segala. Terus pada pasang poster ilmiah di sana-sini. Semuanya buat pencitraan di mata asesor. Ya itulah yang akhirnya mereka dapatkan.
Kalau lembaga mahasiswa maunya apa? Menancapkan sedalam-dalamnya kuku organisasi eksternal kampus dalam keluarga mahasiswa? Ya sebatas itulah yang mereka dapatkan. Setelah tertancap pun tak tahu mau diapakan.
Lalu mahasiswa yang berada di luar semua itu? Kuliah niatnya apa? Biar nggak jadi pengangguran? Ya itulah yang mereka dapatkan. Lulus cepat? Berdiskusi? Mengkritik kebijakan pemerintah? Ikut kompetisi ilmiah? Nyari pacar? Menyenangkan hati orangtua? Ya itulah yang mereka (atau kita) dapatkan.
Aku juga terus mencoba mengajak teman2 dan adik2 angkatan di psikologi supaya giat berdiskusi mengenai psikologi. Jadi ilmu psikologi bisa digunakan sebagai analisis, atau solusi, untuk masalah sehari-hari. Banyak yang tertarik, tapi banyak juga yang enggan memusingkan kepala dengan diskusi. "Kuliah saja sudah pusing, ngapain pusing lagi dengan diskusi!" Itu alasan dari mereka yang tidak tertarik.
Aku pikir untuk saat ini sulit untuk membuat sebuah gerakan mayoritas. Setiap orang punya ketertarikan yang amat beragam. Teknologi informasi telah membuat orang memiliki dimensi yang amat beragam untuk mengaktualisasikan minatnya. Ada yang cukup puas dengan kondisi kampus saat ini, tapi ada yang yang tidak puas.
Kesimpulannya, amat sangat susah membuat ribuan orang yang memiliki perbedaan karakter, pola pikir, dan ideologi, memiliki niat yang sama dalam "menghidupkan kampus" dan mencapai satu hasil bersama. Tapi juga tidak mustahil untuk mewujudkannya. Semuanya tergantung niat "masuk ke perguruan tinggi mau apa?". Dosen saya pernah berkata:"Skripsi adalah media bagi mahasiswa untuk mengartikulasikan pengetahuan yang telah diperoleh agar mampu memecahkan masalah melalui kaidah-kaidah ilmiah". Lha kalau niat ngerjain skripsi cuma supaya lulus kuliah, ya iitulah yang akan didapatkan. Tak salah juga sebenarnya. Pilihan ada di tangan kita, pergerakan juga ada di tangan kita. Teruslah berjuang!
Senin, 31 Januari 2011
Bentuk lain dari kelembaaan mahasiswa UII Yogyakarta
Seputar Ketidakpedulian Mahasiswa di Kampus UII
Oleh, Kamil Alfi Arifin*
Jika dulu Soe Hok Gie menulis sebuah artikel tentang betapa tidak menariknya pemerintahan saat itu bagi dirinya, saya kok tiba-tiba, merasa ingin menulis topik yang serupa dengan ruang lingkup yang berbeda. Bukan hendak bergagah-gagahan, tetapi memang, saya melihat betapa tidak menariknya kehidupan kampus di UII dalam waktu terakhir ini. Ada dua hal yang bisa membenarkan kesan ini. Pertama, sepinya kampus dari kegiatan-kegiatan, baik yang bersifat intelektual-akademis ataupun politik sebagai ciri khas dunia mahasiswa. Kedua,banyaknya komentar-komentar miring dari mahasiswa di media Facebook, saat saya melempar statemen-statemen bernada kritik terhadap kampus terlebih lembaga kemahasiswaannya.
Dua hal, yang bila diperhatikan secara seksama akan menuai paradoks. Mengapa demikian? Lha iya, hampir di semua kesempatan saya berbincang dengan teman-teman lembaga mahasiswa, muncul kesimpulan bahwa sepinya kegiatan kampus tadi karena mahasiswa-mahasiswa yang tidak peduli. Tapi benarkah demikian? Saya justru menemukan sebaliknya, apatisme mahasiswa yang sering dijadikan kambing hitam sepinya kegiatan kampus oleh teman-teman lembaga mahasiswa ternyata tidak sepenuhnya benar. Memang kita tidak bisa menyangkal bahwa apatisme menjadi gejala umum di kampus-kampus, tetapi juga jangan dilupakan, maraknya komentar kritik teman-teman atas kampus di media FB yang disebut di atas adalah indikasi bahwa masih ada kepedulian itu.
Tulisan ini bermaksud mengoreksi kesalahan lembaga mahasiswa dan sistem yang dipertahankannya.
Mitos Apatisme dan Keangkuhan Lembaga
Dalam ortopraksis perpolitikan di kampus UII, memang apatisme menjadi mitos tersendiri. Menjadi mitos karena ia seringkali dijadikan muara kesalahan-kesalahan lembaga mahasiswa dan pengurus-pengurusnya. Lembaga mahasiswa tidak pernah rendah hati untuk melakukan evaluasi terhadap dirinya. Semua persoalan-persoalan kemahasiswaan di kampus kerapkali dipulangkan pada mahasiswa kebanyakan di luar lembaga mahasiswa. Karena mahasiswa apatislah…tak tahu diri…semau-maunya dan sebagainya. Kita tak pernah berpikir, apakah lembaga mahasiswa sebagai sebuah organisasi sudah efektifkah cara kerja, jalan dan sistemnya?
Pola pikir teman-teman lembaga mahasiswa yang seperti itu telah menunjukkan sebuah sikap arogansi, sikap fir’aunisme lembaga mahasiswa itu sendiri. Coba kita perhatikan, hampir di setiap tahun, saat kampus mempunyai gawe menyambut mahasiswa baru, acara seperti pekan ta’aruf (Pesta, Pekta, dan apapun namanya) selalu dihiasi dengan tema-tema yang menunjukkan bahwa mahasiswa selalu menjadi tempat kesalahan, sementara lembaga mahasiswa selalu benar.
Tema-tema seperti “Menjadikan Mahasiswa Muslim Progresif”, “Meningkatkan Semangat Intelektual Mahasiswa” dan tema-tema yang terkait selalu menjadi pilihan. Sepintas, ini mungkin tidak masalah, malah bagus. Tapi kalau kita jeli, kita akan menemukan bahwa mahasiswa selalu diasumsikan sebagai “manusia pesakitan”. Kenapa jarang bahkan tidak pernah menggunakan tema misalnya,“Meningkatkan Peran-Peran Lembaga Mahasiswa dalam Dunia Kemahasiswaan”dan tema-tema terkait lainnya?
Disini, kemudian kita menjadi mengerti kenapa mahasiswa selalu dijadikan objek kesalahan. Lembaga mahasiswa di UII memiliki pola pikir yang bias. Tentu, pola pikir semacam ini memberikan implikasi yang tidak sederhana pada sikap-sikap lembaga mahasiswa dan orang-orangnya dalam melakukan tindakan-tindakan politik keseharian di kampus, misalnya saja dalam pengambilan keputusan terkait kemahasiswaan. Maklum jika kemudian mahasiswa menjauh dari lembaga mahasiswa dan tak sedikit yang mengutuknya sebagai lembaga murahan.
Standar Apatisme
Dari persoalan di atas, kita melihat sepertinya ada standar yang berbeda antara mahasiswa dan lembaga mahasiswa dalam melihat persoalan apatisme. Jika teman-teman lembaga mahasiswa melihat apatisme sebagai tidak antusiasmenya mahasiswa-mahasiswa dalam merespon program-program yang diadakan lembaga mahasiswa, maka bagi mahasiswa, justru bisa jadi sebaliknya. Ketidakantusiasmean mereka adalah wujud dari sebuah kepedulian atau “pertemanan kritis” mereka dengan lembaga mahasiswa, karena lembaga mahasiswa dianggap tidak melakukan fungsinya dengan baik. Apalagi kalau kita melihat dalam gambaran pola pikir lembaga mahasiswa yang dijelaskan di atas.
Jadi apatisme disini, saya kira harus dibaca sebagai tidak menariknya lembaga mahasiswa dalam menjalankan peran-perannya dalam kehidupan kampus di UII.Sehingga upaya-upaya melawan apatisme yang harus dan bisa dilakukan adalah dengan memperbaiki lembaga mahasiswa agar dalam peranannya terlihat menarik. Tapi bagaimana lembaga mahasiswa bisa menarik? Tentu ini pertanyaan yang tidak mudah, karena tidak melulu butuh penjelasan teknis melainkan juga filosofis. Berbicara lembaga mahasiswa yang menarik, tentu bicara sistem yang mengatur hal-ikhwal bekerjanya.
Sistem dan Logika Berpikir Lembaga yang Tak Beres
Di awal, sudah dijelaskan bagaimana lembaga mahasiswa menilai bahwa sepinya kampus adalah karena mahasiswa dilanda badai apatisme. Tapi disisi lain, lembaga mahasiswa terlihat mempertahankan sebuah sistem yang justru malah kontraproduktif dengan kondisi objektif mahasiswa yang dianggapnya apatis. Misalnya sistem pemilihan independen. Di tengah-tengah kondisi apatisme, sistem independen menjadi tidak bermakna, karena yang maju sebagai pemimpin mahasiswa hanya “itu-itu saja”.
Di permukaan, mungkin sistem pemilihan independen terlihat ideal, karena kemungkinannya yang memberikan peluang dan kesempatan kepada semua untuk menjadi pemimpin mahasiswa, seperti apologi teman-teman di lembaga. Cuma, karena kondisinya mahasiswa banyak tak peduli, yang maju dalam kesempatan menjadi pimpinan mahasiswa hanya orang-orang “itu-itu saja”. Jelas ini hanya menguntungakan kelompok-kelompok yang sedang berkuasa.
Kesan beberapa teman di lembaga mahasiswa yang ngotot mempertahankan sistem pemilihan independen terang memberikan pesan bahwa ada kepentingan raksasa dalam rangka mempertahankan status quo kekuasaannya. Ini bagian dari pelaksanaan hegemoni yang memang mensyaratkan dirinya dikerjakan dengan pola-pola yang halus. Intinya, sistem pemilihan independen tidak match dengan kondisi objektif mahasiswa kekinian di UII. Selain itu, ini lagi-lagi menunjukkan logika berpikir lembaga mahasiswa yang tak rapi.
Sistem yang tak argumentasional itu dan yang masih dipertahankan oleh lembaga membuat kehidupan mahasiswa di UII semakin tak menarik. Dibutuhkan sistem alternatif yang mampu mengikis apatisme dan menjadikan kehidupan mahasiswa di UII lebih semarak, lebih hidup dan menarik.
Multipartai
Multipartai mungkin memang bukan sistem yang ideal, tapi setidaknya, sistem ini mampu mengikis apatisme mahasiswa di UII. Prodi Ilmu Komunikasi melalui Himakom selangkah lebih maju karena berani mempraktekkan multipartai dalam pemilihan ketua Himakom tahun lalu. Hasilnya pun luar biasa, ada semarak dan semangat keterlibatan mahasiswa yang total di dalamnya. Saya kira, lembaga mahasiswa perlu menengok dan belajar dari Himakom.
Demokratisasi kampus yang sering kita dengung-dengungkan seharusnya diterjemahkan sebagai keberanian kita melakukan percobaan-percobaan dan lompatan-lompatan politik (termasuk mengganti sistem); meninggalkan yang lama yang tidak relevan, menjalin yang baru dan relevan, agar politik kampus dan kelembagaan di UII tidak “melompat di tempat yang sama”. Kita butuh politik cakrawala, kata Goenawan Mohammad.
QUOTES: MASUK AKALNYA. YANG PUNYA JABATAN MOHON JANGAN HANYA BERSIKAP DEFENSIF. KARENA SAMPEAN WAKIL MAHASISWA JADI DENGERIN DONK KELUHAN MAHASISWA. (agus sanusi, alumni mahasiswa UII jurusan Psikologi'06)
Sabtu, 22 Januari 2011
DISKUSI (H/D)EBAT SAYA DENGAN HARIS NUR ALI
(terkait artikel Organisasi Kampus: Kawah Condrodhimuko Pencetak Mahasiswa Sukses http://www.haris-berbagi.co.cc/2011/01/organisasi-kampus-kawah-condrodhimuko_18.html
From: "Amri Zamani"
From: "Amri Zamani"
Date: 21 Januari 2011, 06.11 am
Subject: [Komentar]
asalamualaikum.
saya sangat mengapresiasi atas karya dan kontribusi mas haris untuk berbagi, dan mungkin sudah banyak yang bilang jika anda memiliki banyak kesamaan dalam beberapa aspek, terutama semangat berjuang dan lebih baik. itu pula lah yang saya rasakan saat membaca tulisan-tulisan mas haris, semangat dan cita-cita anda dapat terlihat dari topik dan pemilihan kata yang digunakan.
namun disini saya ingin sedikit berbeda dengan yang lain mungkin, jika saja yang lain memberikan bentuk kepedulian mereka dengan cara mengapresiasi dan pujian tentu itu sudah biasa bukan? saya coba tawarkan beberapa kritik dan masukan dengan niat kepedulian dan refleksi atas apa yang anda jabarkan. dan mungkin harapan nya nanti kritikan saya akan lebih bisa diingat oleh anda kelak..
baiklah, hal pertama yang ingin saya soroti mengenai persfektif anda mengenai kelembagaan mahasiswa dewasa ini. kebetulan saya juga telah membaca referensi anda seperti buku Steven Covey dan Fuad Nashori atau pun penelitian goleman diatas. ada yang terlalu utopis dan terkesan terlalu dilebihkan saat anda menggambarkan kesuksesan mahasiswa dan kehidupannya. itu berangkat dari pengalaman pribadi saya selama menjabat dibeberapa lembaga kemahasiswaan.
dicontohkan bahwa mahasiswa yang sukses adalah yang berorganisasi saat mereka berkuliah, ini bisa kacau jika pemahaman yang diberikan kurang substansi. karena apa yang terjadi pada lembaga kemahasiswaan sekarang tidak anda tuliskan secara berimbang. walaupun saya sepakat mengenai kata-kata ini "secara emosional mereka belum cukup dewasa, bahkan masih sering direpotkan oleh pertentangan dalam diri sendiri." itu jelas terjadi dalam diri saya.
ketakutan saya adalah, kita sebagai pelaku intelektual muda(mahasiswa) terjebak pada pemahaman-pemahaman yang sangat absurd mengenai subtansi dan urgensi kegiatan mahasiswa itu sendiri. saat ini mahasiswa sudah tidak melihat apa yang anda ceritakan diatas, walau memang tidak sepenuhnya keliru. anggapan mengenai proses di dalam kelembagaan mahasiswa sudah mengalami pergeseran makna menjadi produktifitas kacang atom. yaitu kegiatan-kegiatan yang dinilai secara kuantitas bukan lagi kualitas.
ada baiknya anda sebagai salah satu kader dari pers kampus mampu menjembatani antara ideal dan realita ini, kelembagaan asik dengan kegiatan-kegiatan kacang atomnya dan pers mahasiswa melempem dengan berita basi dan taringnya yang tumpul.
sekali lagi saya berharap apa yang saya tuliskan ini mampu memberikan sedikit perbedaan pandangan mengenai pandangan anda terkait kemahasiswaan. subjektif memang, namun itulah perspektif saya. pro kontra adalah hal yang biasa bukan?
oh ia, saya suka dengan gaya tulisan anda, namun ada baiknya anda mencoba otokritik yang pedas terhadap lingkungan sekitar, rektor, dosen ataupun pimpinan lembaga kemahasiswaan mungkin. toh saya lihat cita-cita anda juga ingin berkeliling dunia, bukan untuk mencari musuh atau berdebat tanpa manfaat. tapi kaya akan rasa dan hasrat keilmuan. saya pun sebenarnya belum tentu lebih baik dari anda, namun dialog yang baik akan melahirkan solusi yang terang.
wassalam.
untuk islam, bangsa, dan ilmu pengetahuan..(amri zamani)
saya sangat mengapresiasi atas karya dan kontribusi mas haris untuk berbagi, dan mungkin sudah banyak yang bilang jika anda memiliki banyak kesamaan dalam beberapa aspek, terutama semangat berjuang dan lebih baik. itu pula lah yang saya rasakan saat membaca tulisan-tulisan mas haris, semangat dan cita-cita anda dapat terlihat dari topik dan pemilihan kata yang digunakan.
namun disini saya ingin sedikit berbeda dengan yang lain mungkin, jika saja yang lain memberikan bentuk kepedulian mereka dengan cara mengapresiasi dan pujian tentu itu sudah biasa bukan? saya coba tawarkan beberapa kritik dan masukan dengan niat kepedulian dan refleksi atas apa yang anda jabarkan. dan mungkin harapan nya nanti kritikan saya akan lebih bisa diingat oleh anda kelak..
baiklah, hal pertama yang ingin saya soroti mengenai persfektif anda mengenai kelembagaan mahasiswa dewasa ini. kebetulan saya juga telah membaca referensi anda seperti buku Steven Covey dan Fuad Nashori atau pun penelitian goleman diatas. ada yang terlalu utopis dan terkesan terlalu dilebihkan saat anda menggambarkan kesuksesan mahasiswa dan kehidupannya. itu berangkat dari pengalaman pribadi saya selama menjabat dibeberapa lembaga kemahasiswaan.
dicontohkan bahwa mahasiswa yang sukses adalah yang berorganisasi saat mereka berkuliah, ini bisa kacau jika pemahaman yang diberikan kurang substansi. karena apa yang terjadi pada lembaga kemahasiswaan sekarang tidak anda tuliskan secara berimbang. walaupun saya sepakat mengenai kata-kata ini "secara emosional mereka belum cukup dewasa, bahkan masih sering direpotkan oleh pertentangan dalam diri sendiri." itu jelas terjadi dalam diri saya.
ketakutan saya adalah, kita sebagai pelaku intelektual muda(mahasiswa) terjebak pada pemahaman-pemahaman yang sangat absurd mengenai subtansi dan urgensi kegiatan mahasiswa itu sendiri. saat ini mahasiswa sudah tidak melihat apa yang anda ceritakan diatas, walau memang tidak sepenuhnya keliru. anggapan mengenai proses di dalam kelembagaan mahasiswa sudah mengalami pergeseran makna menjadi produktifitas kacang atom. yaitu kegiatan-kegiatan yang dinilai secara kuantitas bukan lagi kualitas.
ada baiknya anda sebagai salah satu kader dari pers kampus mampu menjembatani antara ideal dan realita ini, kelembagaan asik dengan kegiatan-kegiatan kacang atomnya dan pers mahasiswa melempem dengan berita basi dan taringnya yang tumpul.
sekali lagi saya berharap apa yang saya tuliskan ini mampu memberikan sedikit perbedaan pandangan mengenai pandangan anda terkait kemahasiswaan. subjektif memang, namun itulah perspektif saya. pro kontra adalah hal yang biasa bukan?
oh ia, saya suka dengan gaya tulisan anda, namun ada baiknya anda mencoba otokritik yang pedas terhadap lingkungan sekitar, rektor, dosen ataupun pimpinan lembaga kemahasiswaan mungkin. toh saya lihat cita-cita anda juga ingin berkeliling dunia, bukan untuk mencari musuh atau berdebat tanpa manfaat. tapi kaya akan rasa dan hasrat keilmuan. saya pun sebenarnya belum tentu lebih baik dari anda, namun dialog yang baik akan melahirkan solusi yang terang.
wassalam.
untuk islam, bangsa, dan ilmu pengetahuan..(amri zamani)
From: "Nur Haris Ali"
Date: 21 Januari 2011, 10.54 am
Subject: [Re: Komentar Organisasi Kampus....(1)]
Wa'alaikum salam wr.wb.
Hai mas Amri yang LUAR BIASA nan SUPER. Apa kabar, mas? Ah, lama tak berjumpa kita sepertinya, mas.
Oke, terima kasih untuk saran dan kritik Mas Amri.
Saya kagum dengan komentar-komentar mas Amri. Beruntung betul fakultas kita itu yang masih memiliki mahasiswa kritis seperti mas Amri ini. Jujur, saya sangat sulit menemukan sosok karakter seperti mas Amri ini.
Ini bukan lebay. Tapi ini adalah pengalaman yang saya temukan dari beberapa mahasiswa mulai dari angkatan saya (2008) ke atas. Lagi pula, Sulit juga tidak berarti sama sekali tidak menemukan, bukan?
Hai mas Amri yang LUAR BIASA nan SUPER. Apa kabar, mas? Ah, lama tak berjumpa kita sepertinya, mas.
Oke, terima kasih untuk saran dan kritik Mas Amri.
Saya kagum dengan komentar-komentar mas Amri. Beruntung betul fakultas kita itu yang masih memiliki mahasiswa kritis seperti mas Amri ini. Jujur, saya sangat sulit menemukan sosok karakter seperti mas Amri ini.
Ini bukan lebay. Tapi ini adalah pengalaman yang saya temukan dari beberapa mahasiswa mulai dari angkatan saya (2008) ke atas. Lagi pula, Sulit juga tidak berarti sama sekali tidak menemukan, bukan?
Dan, bagi saya, mas Amri adalah sosok kakak angkatan-mahasiswa yang telah memberikan contoh secara tidak langsung kepada saya pribadi. Sekali lagi, terima kasih, mas Amri.
Baiklah. Saya pikir, perpektif mas Amri di atas boleh benar adanya. Dan untuk saat ini, mungkin itulah yang terjadi pada lembaga kemahasiswaan (LK) kampus dan fakultas kita itu sekarang. Namun, sepertinya itu tidak berlaku untuk semua LK.
Kalau perspektif mas Amri di atas berangkat dari pengalaman pribadi yang mengatakan bahwa: LK kita itu saat ini sudah asik dengan kegiatan-kegiatan kacang atomnya dan persma melempem (sebenarnya saya tidak sepakat dengan pernyataan Anda ini) dengan berita basi dan taringnya yang tumpul, maka pengalaman pribadi saya pun juga punya perspektif lain, mengapa hal itu bisa terjadi.
Pergeseran makna kegiatan kemahasiswaan yang mas Amri kemukakan itu, menurut saya, bisa jadi karena adanya kesalahan proses in put / open requirement yang dilakukan oleh para generasi terdahulu yang, masih jauh dari harapan. Atau memang, terjadi pemaksaan in put agar LK tetap memiliki anggota baru. Akibatnya? ya seperti yang mas Amri dan saya rasakan saat ini. Dan itu, PR bagi kita semua, menurut saya, mas. Bukan hanya pers mahasiswa saja!
Saya tidak menyalahkan genarasi terdahulu / kakak-kakak angkatan yang, menurut pengakuan pernah menjabat di beberapa LK, seperti mas Amri. Ini hanya perspektif saya saja, lho, Mas. Adapun mas Amri kurang sepakat?, ya monggo. Boleh-boleh saja. Kalau kata Gus Dur, “Saya katakan atau tidak, itulah pendapat saya!.” Dan di sini, saya sepertinya juga tidak seperti Andreas Harsono yang pernah mengatakan, "Saya kurang suka mengeluarkan opini saya kecuali kalau memang harus menulis esai atau news analysis."
to be continue...
Baiklah. Saya pikir, perpektif mas Amri di atas boleh benar adanya. Dan untuk saat ini, mungkin itulah yang terjadi pada lembaga kemahasiswaan (LK) kampus dan fakultas kita itu sekarang. Namun, sepertinya itu tidak berlaku untuk semua LK.
Kalau perspektif mas Amri di atas berangkat dari pengalaman pribadi yang mengatakan bahwa: LK kita itu saat ini sudah asik dengan kegiatan-kegiatan kacang atomnya dan persma melempem (sebenarnya saya tidak sepakat dengan pernyataan Anda ini) dengan berita basi dan taringnya yang tumpul, maka pengalaman pribadi saya pun juga punya perspektif lain, mengapa hal itu bisa terjadi.
Pergeseran makna kegiatan kemahasiswaan yang mas Amri kemukakan itu, menurut saya, bisa jadi karena adanya kesalahan proses in put / open requirement yang dilakukan oleh para generasi terdahulu yang, masih jauh dari harapan. Atau memang, terjadi pemaksaan in put agar LK tetap memiliki anggota baru. Akibatnya? ya seperti yang mas Amri dan saya rasakan saat ini. Dan itu, PR bagi kita semua, menurut saya, mas. Bukan hanya pers mahasiswa saja!
Saya tidak menyalahkan genarasi terdahulu / kakak-kakak angkatan yang, menurut pengakuan pernah menjabat di beberapa LK, seperti mas Amri. Ini hanya perspektif saya saja, lho, Mas. Adapun mas Amri kurang sepakat?, ya monggo. Boleh-boleh saja. Kalau kata Gus Dur, “Saya katakan atau tidak, itulah pendapat saya!.” Dan di sini, saya sepertinya juga tidak seperti Andreas Harsono yang pernah mengatakan, "Saya kurang suka mengeluarkan opini saya kecuali kalau memang harus menulis esai atau news analysis."
to be continue...
From: "Nur Haris Ali"
Date: 21 Januari 2011, 10.56 am
Subject: [To be continue Re: Komentar....(2)]
Lagi pula, kalau tidak saya kemukakan, bagaimana orang tahu sikap atau pendapat saya?
Saya juga sering mendengar curhatan-curhatan dari teman-teman yang aktif di LK di fakultas kita itu, Mas Amri. Dan sepertinya, ketakutan mas Amri itu sudah terjadi saat ini. Mereka mengeluh, mas. Katanya, hanya rapat, rapat dan rapat hingga larut malam, tapi hasil rapat pun kurang (atau malah tidak?) jelas jluntrungnya gimana.
Sangat ironis, bukan, mas Amri? Hingga sebegitunya, coba.
Saya justru khawatir, ini itu terjadi karena generasi terdahulu TIDAK menularkan subtansi dan urgensi kegiatan mahasiswa itu kepada generasi baru yang saat ini menjabat di LK kita itu. Atau, memang hal itu yang terjadi? Semoga saja tidak. Sepertinya, Mas Amri lebih kompeten menjawab ini.
Untuk sementara ini, saya sendiri hanya bisa berkontribusi dengan salah satunya menuliskan gambaran mahasiswa sukses seperti yang sudah mas Amri baca di atas itu. Ini adalah stimulus yang bisa saya berikan kepada mereka yang saat ini sedang bergelut-berjuang menghidupkan LK. Namun, bagaimanapun juga, mas, mahasasiwa yang demikian itu, yang aktif di lembaga kemahasiswaan apa dan bagaimana pun itu kegiatannya, saya pikir, mereka lebih memiliki pengalaman dari pada yang tidak berorganisasi. Dan, bisa jadi, hal inilah yang membuat mereka lebih sukses dulu nantinya. Siapa tahu.
Saya kira sekian dulu. Terima kasih.
Oiya, jangan merasa terganggu dengan pendapat saya di atas ya, Mas Amri. Let's it enjoy :)
Saya juga sering mendengar curhatan-curhatan dari teman-teman yang aktif di LK di fakultas kita itu, Mas Amri. Dan sepertinya, ketakutan mas Amri itu sudah terjadi saat ini. Mereka mengeluh, mas. Katanya, hanya rapat, rapat dan rapat hingga larut malam, tapi hasil rapat pun kurang (atau malah tidak?) jelas jluntrungnya gimana.
Sangat ironis, bukan, mas Amri? Hingga sebegitunya, coba.
Saya justru khawatir, ini itu terjadi karena generasi terdahulu TIDAK menularkan subtansi dan urgensi kegiatan mahasiswa itu kepada generasi baru yang saat ini menjabat di LK kita itu. Atau, memang hal itu yang terjadi? Semoga saja tidak. Sepertinya, Mas Amri lebih kompeten menjawab ini.
Untuk sementara ini, saya sendiri hanya bisa berkontribusi dengan salah satunya menuliskan gambaran mahasiswa sukses seperti yang sudah mas Amri baca di atas itu. Ini adalah stimulus yang bisa saya berikan kepada mereka yang saat ini sedang bergelut-berjuang menghidupkan LK. Namun, bagaimanapun juga, mas, mahasasiwa yang demikian itu, yang aktif di lembaga kemahasiswaan apa dan bagaimana pun itu kegiatannya, saya pikir, mereka lebih memiliki pengalaman dari pada yang tidak berorganisasi. Dan, bisa jadi, hal inilah yang membuat mereka lebih sukses dulu nantinya. Siapa tahu.
Saya kira sekian dulu. Terima kasih.
Oiya, jangan merasa terganggu dengan pendapat saya di atas ya, Mas Amri. Let's it enjoy :)
Saya sama sekali tidak keberatan untuk membaca komentar balik dari Mas Amri, jika itu tak memberatkan. Dan apalah artinya saya, yang hanya sekadar bisa berbagi tulisan di "rumah" ketiga saya ini, bukan?
Terima kasih banyak.
Tabik,
Haris
From: "Amri Zamani"
Date: 21 Januari 2011, 19.23 am
Subject: [Re: Komentar (1) dan (2)]
sore mas haris..
senang rasanya membaca postingan anda diatas, santun nan menggugah, menjadikan saya selalu sadar untuk terus memperbaiki diri dan tidak cepat puas dengan sesuatu hal. baiklah mungkin akan saya awali dengan sedikit apresiasi dan keluh kesah.
tulisan anda kali ini dalam perspektif saya lebih baik dari yang pertama, karena sudah berimbang sebagai sebuah berita dan ajakan kepada mahasiswa lainnya. saya sangat sepakat mengenai rapat, rapat dan rapat hingga larut malam, tapi hasil rapat pun kurang (atau malah tidak?) jelas jluntrungnya gimana.
bayangkan saja, jika rapat yang sudah sedemikian rupa saja hasilnya masih dirasa kurang mumpuni, bagaimana dengan yang tidak? walaupun rapat yang lama bukan sebuah jaminan. tentu ada kesalahan disini dan belum mampu dijawab oleh teman-teman yang berada dikelembagaan mahasiswa saat ini. termasuk saya..
hanya sekedar untuk share saja, bahwa student goverment UII merupakan salah satu konsep kelembagaan yang terbaik dan sering dijadikan percontohan oleh kampus-kampus diseluruh nusantara, terutama jika sedang ada kongres atau munas lembaga kemahasiswaan. karena dinilai UII memiliki tingkat independensi dan keteraturan (rapih) alur kerja dalam tubuh kelembagaan.
hanya saja jika berkaca pada realita UII sendiri, toh konsep itu masih sangat dirasa kurang bahkan butuh revisi. mengapa saya katakan lembaga hanya berkegiatan kacang atom dan lembaga pers dengan berita basi dan taringnya yang tumpul. itu merupakan bentuk keprihatinan saya dalam sebuah refleksi selama saya menjadi mahasiswa. karenanya peran-peran itu tersublimasi kedalam produktifitas yang kurang substansi.
kenapa saya dan teman-teman yang lain justru lebih senang dengan membentuk buletin independent dikampus kita dan memang akhirnya lebih dipandang dan juga mendapat perhatian dari para aktivis mahasiswa, karena hanya dengan berani berbuatlah maka hal itu terwujud. kemudian akhirnya saya berfikir, saya harus masuk kedalam sistem untuk membantu memperbaiki dari dalam. bukan hanya mengkritik tanpa solusi.
namun justru saat saya terjun langsung didalam kelembagaan saya merasa bahwa saya menjadi pelaku ketidak substansian itu. bentuk-bentuk kekecewaan saya akhirnya berujung pada rapat-rapat verifikasi yang kurang urgensi itu. setela itu saya berfikir apa yang bisa saya berikan sebagai bentuk kontribusi nyata kepada kampus ini, dan tentu dapat dirasa langsung manfaatnya sampai kemahasiswa paling awam sekalipun. jika mau digali lebih dalam mengapa keadaaannya menjadi seperti ini, tentu sangat butuh waktu yang cukup untuk memahami dan mencari akar permasalahan dari situasi kampus ini.
mas haris, saya menangkap adanya keresahan yang sama mengenai kelembagaan mahasiswa kita ini. jika tulisan mas mengenai mahasiswa sukses itu untuk memotivasi dan merangsang rasa perjuangan maka saya bisa memahaminya sebagai bentuk kontribusi dan kepedulian mas sendiri terhadap mahasiswa sekarang ini. kampus kita terpecah-pecah perjuangannya, jarang ada yang mau menjadi pionir untuk mewadahi kepentingan bersama itu.
sungguh tidak banyak yang mau berjuang dan ikut dalam proses panjang ini. tidak ada yang lebih baik selain terus berdialog mengenai solusi solutif semua kampus di Indonesia. anda mampu hadir untuk menawarkan warna dan rasa lain menjadi seorang mahasiswa, karena memang proses pematangan karakter dan pola pikir itu ada didalamnya. walaupun terkadang sistem regenarasi kampus masih terkesan dipakasakan.
sekali lagi saya hanya berharap kepada teman-teman yang membaca tulisan dan artikel-artikel mas haris mampu menjadi pribadi-pribadi yang unggul (mario teguh) dengan karya dan cara-cara mereka sendiri. untuk saat ini hanya itu saja.
wassalam.
nb: terus konsisten menulis mas, kelak manfaatnya untuk yang lain akan terasa suatu hari
senang rasanya membaca postingan anda diatas, santun nan menggugah, menjadikan saya selalu sadar untuk terus memperbaiki diri dan tidak cepat puas dengan sesuatu hal. baiklah mungkin akan saya awali dengan sedikit apresiasi dan keluh kesah.
tulisan anda kali ini dalam perspektif saya lebih baik dari yang pertama, karena sudah berimbang sebagai sebuah berita dan ajakan kepada mahasiswa lainnya. saya sangat sepakat mengenai rapat, rapat dan rapat hingga larut malam, tapi hasil rapat pun kurang (atau malah tidak?) jelas jluntrungnya gimana.
bayangkan saja, jika rapat yang sudah sedemikian rupa saja hasilnya masih dirasa kurang mumpuni, bagaimana dengan yang tidak? walaupun rapat yang lama bukan sebuah jaminan. tentu ada kesalahan disini dan belum mampu dijawab oleh teman-teman yang berada dikelembagaan mahasiswa saat ini. termasuk saya..
hanya sekedar untuk share saja, bahwa student goverment UII merupakan salah satu konsep kelembagaan yang terbaik dan sering dijadikan percontohan oleh kampus-kampus diseluruh nusantara, terutama jika sedang ada kongres atau munas lembaga kemahasiswaan. karena dinilai UII memiliki tingkat independensi dan keteraturan (rapih) alur kerja dalam tubuh kelembagaan.
hanya saja jika berkaca pada realita UII sendiri, toh konsep itu masih sangat dirasa kurang bahkan butuh revisi. mengapa saya katakan lembaga hanya berkegiatan kacang atom dan lembaga pers dengan berita basi dan taringnya yang tumpul. itu merupakan bentuk keprihatinan saya dalam sebuah refleksi selama saya menjadi mahasiswa. karenanya peran-peran itu tersublimasi kedalam produktifitas yang kurang substansi.
kenapa saya dan teman-teman yang lain justru lebih senang dengan membentuk buletin independent dikampus kita dan memang akhirnya lebih dipandang dan juga mendapat perhatian dari para aktivis mahasiswa, karena hanya dengan berani berbuatlah maka hal itu terwujud. kemudian akhirnya saya berfikir, saya harus masuk kedalam sistem untuk membantu memperbaiki dari dalam. bukan hanya mengkritik tanpa solusi.
namun justru saat saya terjun langsung didalam kelembagaan saya merasa bahwa saya menjadi pelaku ketidak substansian itu. bentuk-bentuk kekecewaan saya akhirnya berujung pada rapat-rapat verifikasi yang kurang urgensi itu. setela itu saya berfikir apa yang bisa saya berikan sebagai bentuk kontribusi nyata kepada kampus ini, dan tentu dapat dirasa langsung manfaatnya sampai kemahasiswa paling awam sekalipun. jika mau digali lebih dalam mengapa keadaaannya menjadi seperti ini, tentu sangat butuh waktu yang cukup untuk memahami dan mencari akar permasalahan dari situasi kampus ini.
mas haris, saya menangkap adanya keresahan yang sama mengenai kelembagaan mahasiswa kita ini. jika tulisan mas mengenai mahasiswa sukses itu untuk memotivasi dan merangsang rasa perjuangan maka saya bisa memahaminya sebagai bentuk kontribusi dan kepedulian mas sendiri terhadap mahasiswa sekarang ini. kampus kita terpecah-pecah perjuangannya, jarang ada yang mau menjadi pionir untuk mewadahi kepentingan bersama itu.
sungguh tidak banyak yang mau berjuang dan ikut dalam proses panjang ini. tidak ada yang lebih baik selain terus berdialog mengenai solusi solutif semua kampus di Indonesia. anda mampu hadir untuk menawarkan warna dan rasa lain menjadi seorang mahasiswa, karena memang proses pematangan karakter dan pola pikir itu ada didalamnya. walaupun terkadang sistem regenarasi kampus masih terkesan dipakasakan.
sekali lagi saya hanya berharap kepada teman-teman yang membaca tulisan dan artikel-artikel mas haris mampu menjadi pribadi-pribadi yang unggul (mario teguh) dengan karya dan cara-cara mereka sendiri. untuk saat ini hanya itu saja.
wassalam.
nb: terus konsisten menulis mas, kelak manfaatnya untuk yang lain akan terasa suatu hari
Jumat, 21 Januari 2011
HIDUP ADALAH BELAJAR....
BELAJAR :
Ø Bersyukur meski tak cukup,
Ø Ikhlas meski tak rela,
Ø Taat meski berat,
Ø Memahami meski tak sehati,
Ø Sabar meski terbebani,
Ø Setia meski tergoda,
Ø Memberi meski tak seberapa,
Ø Mengasihi meski disakiti,
Ø Tenang meski gelisah,
Ø Percaya Meski Susah,
Belajar dan, Terus Belajar.....!
cinta yang universal (teruntuk sahabat-sahabat terbaikku)
Jika kita mencintai seseorang, kita akan senantiasa mendo'akannya walaupun dia tidak berada disisi kita. Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...
Jangan sesekali mengucapkan selamat tinggal jika kamu masih mau mencoba. Jangan sesekali menyerah jika kamu masih merasa sanggup. Jangan sesekali mengatakan kamu tidak mencintainya lagi, jika kamu masih tidak dapat melupakannya. Cinta datang kepada orang yang masih mempunyai harapan, walaupun mereka telah dikecewakan. Kepada mereka yang masih percaya, walaupun mereka telah dikhianati. Kepada mereka yang masih ingin mencintai, walaupun mereka telah disakiti sebelumnya dan Kepada mereka yang mempunyai keberanian dan keyakinan untuk membangunkan kembali kepercayaan.
Jangan simpan kata-kata cinta pada orang yang tersayang sehingga dia meninggal dunia lantaran akhirnya kamu terpaksa catatkan kata-kata cinta itu pada pusaranya. Sebaliknya ucapkan kata-kata cinta yang tersimpan dibenakmu itu sekarang selagi ada hayatnya. Mungkin Tuhan menginginkan kita bertemu dan bercinta dengan orang yang salah sebelum bertemu dengan orang yang tepat, kita harus mengerti bagaimana berterimakasih atas karunia tersebut.
Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat dan kemarahan menjadi rahmat. Sungguh menyakitkan mencintai seseorang yang tidak mencintaimu, tetapi lebih menyakitkan adalah mencintai seseorang dan kamu tidak pernah memiliki keberanian untuk menyatakan cintamu kepadanya.
Seandainya kamu ingin mencintai atau memiliki hati seorang gadis, ibaratkanlah seperti menyunting sekuntum mawar merah. Kadangkala kamu mencium harum mawar tersebut, tetapi kadangkala kamu terasa bisa duri mawar itu menusuk jari. Hal yang menyedihkan dalam hidup adalah ketika kamu bertemu seseorang yang sangat berarti bagimu, hanya untuk menemukan bahwa pada akhirnya menjadi tidak berarti dan kamu harus membiarkannya pergi.
Kadangkala kamu tidak menghargai orang yang mencintai kamu sepenuh hati, sehingga kamu kehilangannya. Pada saat itu, tiada guna penyesalan karena perginya tanpa berkata lagi. Cintailah seseorang itu atas dasar siapa dia sekarang dan bukan siapa dia sebelumnya. Kisah silam tidak perlu diungkit lagi, kiranya kamu benar-benar mencintainya setulus hati. Hati-hati dengan cinta, karena cinta juga dapat membuat orang sehat menjadi sakit, orang gemuk menjadi kurus, orang normal menjadi gila, orang kaya menjadi miskin, raja menjadi budak, jika cintanya itu disambut oleh para pecinta PALSU.
Kemungkinan apa yang kamu sayangi atau cintai tersimpan keburukan didalamnya dan kemungkinan apa yang kamu benci tersimpan kebaikan didalamnya. Cinta kepada harta artinya bakhil, cinta kepada perempuan artinya alam, cinta kepada diri artinya bijaksana, cinta kepada mati artinya hidup dan cinta kepada Tuhan artinya Takwa. Lemparkan seorang yang bahagia dalam bercinta kedalam laut, pasti ia akan membawa seekor ikan. Lemparkan pula seorang yang gagal dalam bercinta ke dalam gudang roti, pasti ia akan mati kelaparan.
Seandainya kamu dapat berbicara dalam semua bahasa manusia dan alam, tetapi tidak mempunyai perasaan cinta dan kasih, dirimu tak ubah seperti gong yang bergaung atau sekedar canang yang gemericing. Cinta adalah keabadian ... dan kenangan adalah hal terindah yang pernah dimiliki. Siapapun pandai menghayati cinta, tapi tak seorangpun pandai menilai cinta karena cinta bukanlah suatu objek yang bisa dilihat oleh kasat mata, sebaliknya cinta hanya dapat dirasakan melalui hati dan perasaan.
Cinta mampu melunakkan besi, menghancurkan batu, membangkitkan yang mati dan meniupkan kehidupan padanya serta membuat budak menjadi pemimpin. Inilah dahsyatnya cinta. Cinta sebenarnya adalah membiarkan orang yang kamu cintai menjadi dirinya sendiri dan tidak merubahnya menjadi gambaran yang kamu inginkan. Jika tidak, kamu hanya mencintai pantulan diri sendiri yang kamu temukan didalam dirinya. Kamu tidak akan pernah tahu bila kamu akan jatuh cinta. Namun apabila sampai saatnya itu, raihlah dengan kedua tanganmu dan jangan biarkan dia pergi dengan sejuta rasa tanda tanya dihatinya.
Cinta bukanlah kata murah dan lumrah dituturkan dari mulut kemulut tetapi cinta adalah anugerah Tuhan yang indah dan suci jika manusia dapat menilai kesuciannya. Bercinta memang mudah, untuk dicintai juga memang mudah. Tapi untuk dicintai oleh orang yang kita cintai itulah yang sukar diperoleh. Jika saja kehadiran cinta sekedar untuk mengecewakan, lebih baik cinta itu tak pernah hadir. (arz)
Jangan sesekali mengucapkan selamat tinggal jika kamu masih mau mencoba. Jangan sesekali menyerah jika kamu masih merasa sanggup. Jangan sesekali mengatakan kamu tidak mencintainya lagi, jika kamu masih tidak dapat melupakannya. Cinta datang kepada orang yang masih mempunyai harapan, walaupun mereka telah dikecewakan. Kepada mereka yang masih percaya, walaupun mereka telah dikhianati. Kepada mereka yang masih ingin mencintai, walaupun mereka telah disakiti sebelumnya dan Kepada mereka yang mempunyai keberanian dan keyakinan untuk membangunkan kembali kepercayaan.
Jangan simpan kata-kata cinta pada orang yang tersayang sehingga dia meninggal dunia lantaran akhirnya kamu terpaksa catatkan kata-kata cinta itu pada pusaranya. Sebaliknya ucapkan kata-kata cinta yang tersimpan dibenakmu itu sekarang selagi ada hayatnya. Mungkin Tuhan menginginkan kita bertemu dan bercinta dengan orang yang salah sebelum bertemu dengan orang yang tepat, kita harus mengerti bagaimana berterimakasih atas karunia tersebut.
Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat dan kemarahan menjadi rahmat. Sungguh menyakitkan mencintai seseorang yang tidak mencintaimu, tetapi lebih menyakitkan adalah mencintai seseorang dan kamu tidak pernah memiliki keberanian untuk menyatakan cintamu kepadanya.
Seandainya kamu ingin mencintai atau memiliki hati seorang gadis, ibaratkanlah seperti menyunting sekuntum mawar merah. Kadangkala kamu mencium harum mawar tersebut, tetapi kadangkala kamu terasa bisa duri mawar itu menusuk jari. Hal yang menyedihkan dalam hidup adalah ketika kamu bertemu seseorang yang sangat berarti bagimu, hanya untuk menemukan bahwa pada akhirnya menjadi tidak berarti dan kamu harus membiarkannya pergi.
Kadangkala kamu tidak menghargai orang yang mencintai kamu sepenuh hati, sehingga kamu kehilangannya. Pada saat itu, tiada guna penyesalan karena perginya tanpa berkata lagi. Cintailah seseorang itu atas dasar siapa dia sekarang dan bukan siapa dia sebelumnya. Kisah silam tidak perlu diungkit lagi, kiranya kamu benar-benar mencintainya setulus hati. Hati-hati dengan cinta, karena cinta juga dapat membuat orang sehat menjadi sakit, orang gemuk menjadi kurus, orang normal menjadi gila, orang kaya menjadi miskin, raja menjadi budak, jika cintanya itu disambut oleh para pecinta PALSU.
Kemungkinan apa yang kamu sayangi atau cintai tersimpan keburukan didalamnya dan kemungkinan apa yang kamu benci tersimpan kebaikan didalamnya. Cinta kepada harta artinya bakhil, cinta kepada perempuan artinya alam, cinta kepada diri artinya bijaksana, cinta kepada mati artinya hidup dan cinta kepada Tuhan artinya Takwa. Lemparkan seorang yang bahagia dalam bercinta kedalam laut, pasti ia akan membawa seekor ikan. Lemparkan pula seorang yang gagal dalam bercinta ke dalam gudang roti, pasti ia akan mati kelaparan.
Seandainya kamu dapat berbicara dalam semua bahasa manusia dan alam, tetapi tidak mempunyai perasaan cinta dan kasih, dirimu tak ubah seperti gong yang bergaung atau sekedar canang yang gemericing. Cinta adalah keabadian ... dan kenangan adalah hal terindah yang pernah dimiliki. Siapapun pandai menghayati cinta, tapi tak seorangpun pandai menilai cinta karena cinta bukanlah suatu objek yang bisa dilihat oleh kasat mata, sebaliknya cinta hanya dapat dirasakan melalui hati dan perasaan.
Cinta mampu melunakkan besi, menghancurkan batu, membangkitkan yang mati dan meniupkan kehidupan padanya serta membuat budak menjadi pemimpin. Inilah dahsyatnya cinta. Cinta sebenarnya adalah membiarkan orang yang kamu cintai menjadi dirinya sendiri dan tidak merubahnya menjadi gambaran yang kamu inginkan. Jika tidak, kamu hanya mencintai pantulan diri sendiri yang kamu temukan didalam dirinya. Kamu tidak akan pernah tahu bila kamu akan jatuh cinta. Namun apabila sampai saatnya itu, raihlah dengan kedua tanganmu dan jangan biarkan dia pergi dengan sejuta rasa tanda tanya dihatinya.
Cinta bukanlah kata murah dan lumrah dituturkan dari mulut kemulut tetapi cinta adalah anugerah Tuhan yang indah dan suci jika manusia dapat menilai kesuciannya. Bercinta memang mudah, untuk dicintai juga memang mudah. Tapi untuk dicintai oleh orang yang kita cintai itulah yang sukar diperoleh. Jika saja kehadiran cinta sekedar untuk mengecewakan, lebih baik cinta itu tak pernah hadir. (arz)
1 muharram 1432 hijriyah
Berhati-hati lah dg orang yg selalu mengedepankan ilmu dan akal pikiran dunia nya di bandingkan dengan ilmu allah (kitab suci al-quran) dan sunah2 rasul nya dalam berkehidupan.. sesungguh nya org2 seperti itu lah yg sedang merugi di mata Allah. (lupa dari mana)
(setahun terakhir ini terkadang ngerasa takut klo termasuk kedlm golongan org yg disebutin diats, jk tmn2 ada yg melihat tanda2 itu pd saya mhn untuk slalu diingatkan)
(setahun terakhir ini terkadang ngerasa takut klo termasuk kedlm golongan org yg disebutin diats, jk tmn2 ada yg melihat tanda2 itu pd saya mhn untuk slalu diingatkan)
Langganan:
Komentar (Atom)


