"UNTUK ISLAM, BANGSA, DAN ILMU PENGETAHUAN."

Senin, 31 Januari 2011

Bentuk lain dari kelembaaan mahasiswa UII Yogyakarta


Seputar Ketidakpedulian Mahasiswa di Kampus UII
RAHMATAN LIL'ALAMIN

Oleh, Kamil Alfi Arifin*

Jika dulu Soe Hok Gie menulis sebuah artikel tentang betapa tidak menariknya pemerintahan saat itu bagi dirinya, saya kok tiba-tiba, merasa ingin menulis topik yang serupa dengan ruang lingkup yang berbeda. Bukan hendak bergagah-gagahan, tetapi memang, saya melihat betapa tidak menariknya kehidupan kampus di UII dalam waktu terakhir ini. Ada dua hal yang bisa membenarkan kesan ini. Pertama, sepinya kampus dari kegiatan-kegiatan, baik yang bersifat intelektual-akademis ataupun politik sebagai ciri khas dunia mahasiswa. Kedua,banyaknya komentar-komentar miring dari mahasiswa di media Facebook, saat saya melempar statemen-statemen bernada kritik terhadap kampus terlebih lembaga kemahasiswaannya.

Dua hal, yang bila diperhatikan secara seksama akan menuai paradoks. Mengapa demikian? Lha iya, hampir di semua kesempatan saya berbincang dengan teman-teman lembaga mahasiswa, muncul kesimpulan bahwa sepinya kegiatan kampus tadi karena mahasiswa-mahasiswa yang tidak peduli. Tapi benarkah demikian? Saya justru menemukan sebaliknya, apatisme mahasiswa yang sering dijadikan kambing hitam sepinya kegiatan kampus oleh teman-teman lembaga mahasiswa ternyata tidak sepenuhnya benar. Memang kita tidak bisa menyangkal bahwa apatisme menjadi gejala umum di kampus-kampus, tetapi juga jangan dilupakan, maraknya komentar kritik teman-teman atas kampus di media FB yang disebut di atas adalah indikasi bahwa masih ada kepedulian itu.

Tulisan ini bermaksud mengoreksi kesalahan lembaga mahasiswa dan sistem yang dipertahankannya.    

Mitos Apatisme dan Keangkuhan Lembaga

Dalam ortopraksis perpolitikan di kampus UII, memang apatisme menjadi mitos tersendiri. Menjadi mitos karena ia seringkali dijadikan muara kesalahan-kesalahan lembaga mahasiswa dan pengurus-pengurusnya. Lembaga mahasiswa tidak pernah rendah hati untuk melakukan evaluasi terhadap dirinya. Semua persoalan-persoalan kemahasiswaan di kampus kerapkali dipulangkan pada mahasiswa kebanyakan di luar lembaga mahasiswa. Karena mahasiswa apatislah…tak tahu diri…semau-maunya dan sebagainya. Kita tak pernah berpikir, apakah lembaga mahasiswa sebagai sebuah organisasi sudah efektifkah cara kerja, jalan dan sistemnya?

Pola pikir teman-teman lembaga mahasiswa yang seperti itu telah menunjukkan sebuah sikap arogansi, sikap fir’aunisme lembaga mahasiswa itu sendiri. Coba kita perhatikan, hampir di setiap tahun, saat kampus mempunyai gawe menyambut mahasiswa baru, acara seperti pekan ta’aruf (Pesta, Pekta, dan apapun namanya) selalu dihiasi dengan tema-tema yang menunjukkan bahwa mahasiswa selalu menjadi tempat kesalahan, sementara lembaga mahasiswa selalu benar.

Tema-tema seperti “Menjadikan Mahasiswa Muslim Progresif”, “Meningkatkan Semangat Intelektual Mahasiswa” dan tema-tema yang terkait selalu menjadi pilihan. Sepintas, ini mungkin tidak masalah, malah bagus. Tapi kalau kita jeli, kita akan menemukan bahwa mahasiswa selalu diasumsikan sebagai “manusia pesakitan”. Kenapa jarang bahkan tidak pernah menggunakan tema misalnya,“Meningkatkan Peran-Peran Lembaga Mahasiswa dalam Dunia Kemahasiswaan”dan tema-tema terkait lainnya?

Disini, kemudian kita menjadi mengerti kenapa mahasiswa selalu dijadikan objek kesalahan. Lembaga mahasiswa di UII memiliki pola pikir yang bias. Tentu, pola pikir semacam ini memberikan implikasi yang tidak sederhana pada sikap-sikap lembaga mahasiswa dan orang-orangnya dalam melakukan tindakan-tindakan politik keseharian di kampus, misalnya saja dalam pengambilan keputusan terkait kemahasiswaan. Maklum jika kemudian mahasiswa menjauh dari lembaga mahasiswa dan tak sedikit yang mengutuknya sebagai lembaga murahan.

Standar Apatisme

Dari persoalan di atas, kita melihat sepertinya ada standar yang berbeda antara mahasiswa dan lembaga mahasiswa dalam melihat persoalan apatisme. Jika teman-teman lembaga mahasiswa melihat apatisme sebagai tidak antusiasmenya mahasiswa-mahasiswa dalam merespon program-program yang diadakan lembaga mahasiswa, maka bagi mahasiswa, justru bisa jadi sebaliknya. Ketidakantusiasmean mereka adalah wujud dari sebuah kepedulian atau “pertemanan kritis” mereka dengan lembaga mahasiswa, karena lembaga mahasiswa dianggap tidak melakukan fungsinya dengan baik. Apalagi kalau kita melihat dalam gambaran pola pikir lembaga mahasiswa yang dijelaskan di atas.

Jadi apatisme disini, saya kira harus dibaca sebagai tidak menariknya lembaga mahasiswa dalam menjalankan peran-perannya dalam kehidupan kampus di UII.Sehingga upaya-upaya melawan apatisme yang harus dan bisa dilakukan adalah dengan memperbaiki lembaga mahasiswa agar dalam peranannya terlihat menarik. Tapi bagaimana lembaga mahasiswa bisa menarik? Tentu ini pertanyaan yang tidak mudah, karena tidak melulu butuh penjelasan teknis melainkan juga filosofis. Berbicara lembaga mahasiswa yang menarik, tentu bicara sistem yang mengatur hal-ikhwal bekerjanya.

Sistem dan Logika Berpikir Lembaga yang Tak Beres

Di awal, sudah dijelaskan bagaimana lembaga mahasiswa menilai bahwa sepinya kampus adalah karena mahasiswa dilanda badai apatisme. Tapi disisi lain, lembaga mahasiswa terlihat mempertahankan sebuah sistem yang justru malah kontraproduktif dengan kondisi objektif mahasiswa yang dianggapnya apatis. Misalnya sistem pemilihan independen. Di tengah-tengah kondisi apatisme, sistem independen menjadi tidak bermakna, karena yang maju sebagai pemimpin mahasiswa hanya “itu-itu saja”.

Di permukaan, mungkin sistem pemilihan independen terlihat ideal, karena kemungkinannya yang memberikan peluang dan kesempatan kepada semua untuk menjadi pemimpin mahasiswa, seperti apologi teman-teman di lembaga. Cuma, karena kondisinya mahasiswa banyak tak peduli, yang maju dalam kesempatan menjadi pimpinan mahasiswa hanya orang-orang “itu-itu saja”. Jelas ini hanya menguntungakan kelompok-kelompok yang sedang berkuasa.

Kesan beberapa teman di lembaga mahasiswa yang ngotot mempertahankan sistem pemilihan independen terang memberikan pesan bahwa ada kepentingan raksasa dalam rangka mempertahankan status quo kekuasaannya. Ini bagian dari pelaksanaan hegemoni yang memang mensyaratkan dirinya dikerjakan dengan pola-pola yang halus. Intinya, sistem pemilihan independen tidak match dengan kondisi objektif mahasiswa kekinian di UII. Selain itu, ini lagi-lagi menunjukkan logika berpikir lembaga mahasiswa yang tak rapi.

Sistem yang tak argumentasional itu dan yang masih dipertahankan oleh lembaga membuat kehidupan mahasiswa di UII semakin tak menarik. Dibutuhkan sistem alternatif yang mampu mengikis apatisme dan menjadikan kehidupan mahasiswa di UII lebih semarak, lebih hidup dan menarik.

Multipartai

Multipartai mungkin memang bukan sistem yang ideal, tapi setidaknya, sistem ini mampu mengikis apatisme mahasiswa di UII. Prodi Ilmu Komunikasi melalui Himakom selangkah lebih maju karena berani mempraktekkan multipartai dalam pemilihan ketua Himakom tahun lalu. Hasilnya pun luar biasa, ada semarak dan semangat keterlibatan mahasiswa yang total di dalamnya. Saya kira, lembaga mahasiswa perlu menengok dan belajar dari Himakom.

Demokratisasi kampus yang sering kita dengung-dengungkan seharusnya diterjemahkan sebagai keberanian kita melakukan percobaan-percobaan dan lompatan-lompatan politik (termasuk mengganti sistem); meninggalkan yang lama yang tidak relevan, menjalin yang baru dan relevan, agar politik kampus dan kelembagaan di UII tidak “melompat di tempat yang sama”. Kita butuh politik cakrawala, kata Goenawan Mohammad.


QUOTES: MASUK AKALNYA. YANG PUNYA JABATAN MOHON JANGAN HANYA BERSIKAP DEFENSIF. KARENA SAMPEAN WAKIL MAHASISWA JADI DENGERIN DONK KELUHAN MAHASISWA. (agus sanusi, alumni mahasiswa UII jurusan Psikologi'06)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar